Apa Itu MVV? Dan Bagaimana Cara Mendapatkannya?

Bagi kamu yang sudah diterima untuk kuliah di Belanda, baik dengan beasiswa atau biaya sendiri, pasti harus mengurus visa pelajar atau residence permit untuk mendapatkan legalitas dari Pemerintah Kerajaan Belanda. Agak sedikit berbeda dengan negara lain, menurut saya prosedur untuk mengurus visa pelajar ke Belanda cukup mudah, karena pihak kampus (melalui Immigration Service Desk – ISD) yang akan mengurus ke imigrasi. Setelah di-approve kita hanya perlu ke Kedutaan Besar Belanda untuk mendapatkan sticker visa di paspor.

Untuk Belanda, kamu perlu mendapatkan MVV atau izin tinggal sementara dari imigrasi baru kemudian ketika tiba di sana harus ditukar dengan kartu Residence Permit. Berbeda dengan waktu saya ke Finlandia pada 2013, saya langsung mendapatkan kartu Residence Permit dari kedubes di Jakarta. MVV berlaku 3 bulan (90 hari) setelah diterbitkan, jadi jangan terburu-buru untuk mengurus MVV. Baiknya, maksimum 2 bulan sebelum keberangkatan. Proses di kantor imigrasi kurang lebih 4 minggu, jadi kamu sudah memegang MVV 1 bulan sebelum keberangkatan.

Langkah apakah yang perlu dilakukan setelah mendapatkan unconditional letter of acceptance (LoA), berikut penjelasannya:

Tahap 1: Siapkan Seluruh Dokumen Untuk Apply Ke Universitas

Pihak kampus akan mengirimkan email pemberitahuan terkait prosedur aplikasi seperti ini:

Kita tinggal mengikuti langkah yang sudah diarahakan oleh ISD. Dokumen yang dibutuhkan antara lain:

  1. Surat Keterangan Beasiswa yang menerangakan jumlah beasiswa yang akan didapatkan. Bagi yang menggunakan biaya sendiri, wajib melampirkan bukti transfer application fee (171 Euro ke rekening kampus), tuition fee and proof of sufficient fund (jumlah uang di dalam rekening),
  2. Scan of Paspor yang memuat semua halaman yang ada stempel dan stiker visa,
  3. Scan of antecendents certificate here.

Saya submit semua dokumen pada 20 Mei 2019 dan langsung mendapatkan notifikasi ke email. Seminggu kemudian, tepatnya 27 mei 2019 saya menerima email yang meminta saya untuk mengirimkan Paspor dengan seluruh halaman yang terpakai karena sebelumnya hanya mengirim halaman depannya saja. Langsung saya kirim hari itu juga, namun baru mendapatkan konfirmasi bahwa sudah diterima ISD pada 4 Juni 2019.

12 Juni 2019 saya mendapatkan notifikasi bahwa aplikasi MVV saya sudah diserahkan ke imigrasi dan akan memakan waktu selama 4 minggu. Dua minggu kemudian pada 25 Juni 2019 saya menerima notifikasi MVV saya sudah di-approve oleh Kantor Imigrasi Belanda dengan lampiran bukti approval dan formulir untuk dibawa ke Kedubes Belanda di Jakarta.

Tahap 2: Apply MVV Ke Kedubes Belanda di Jakarta

Langkah pertama adalah buat appointmen untuk submit aplikasi here. Kemudian siapkan dokumen berikut untuk diserahkan ke Kedubes:

  1. Pasfoto
  2. Formulir (dikirimkan oleh kampus)
  3. Fotokopi Paspor
  4. Bukti Surat Approval (tidak diminta oleh Kedubes)

Saya serahkan semua dokumen tersebut pada Rabu, 10 Juni 2019 dan langsung bisa diambil Jum’atnya, 12 Juni 2019.

Cara Mudah Ke Nusa Penida, Bali

Angel’s Billabong, Nusa Penida, Bali

Alasan orang ke Nusa Penida adalah untuk mengunjungi berbagai spot eksotis dan pemandangan indah yang ditawarkan, seperti Kelingking Beach, Atuh Beach, Diamond Beach, Angel’s Billabong, Broken Beach, dll. Namun terkadang turis masih bingung sebenarnya bagaimana caranya untuk ke Pulau Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan.

Sebelumnya, akhir tahun 2018 saya sudah pernah mengunjungi ke tiga pulau tersebut. Namun kali ini, saya akan share pengalaman trip terbaru saya ke Nusa Penida.

Rencana perjalanan saya total sebanyak 8 hari. Berangkat menggunaka GA400 pukul 05.30 WIB, hasil redeem Garuda Miles, jadi hanya perlu membayar biaya administrasi sebesar +/-Rp135K.

Mendarat di Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 09.00 WITA. Tadinya mau langsung sarapan di Warung Mak Beng, tapi karena bawaan cukup banyak jadi lebih baik check-in ke hotel dulu. Karena keesokannya akan baik fast boat ke Nusa Penida jam 08.30 WITA dari Pantai Matahari Terbit, Sanur, jadi kami memutuskan untuk stay di daerah Sanur juga.

Kami menginap di Hotel Tirta Ening Agung yang berjarak sekitar 10-15 menit naik taksi online ke Pantai Matahari Terbit. Surprisingly, meskipun harganya tidak mahal, suasanya hotelnya cukup oke. Ada kolam renang plus taman khas Bali. Kami mendapatkan harga di Rp315K/malam termasuk sarapan.

Setelah brunch di Mak Beng, dilanjutkan dengan tidur siang buat membayar hitang tidur akibat penerbangan yang sangat pagi. Sorenya kami eksplor ABC Artotel Beach Club dan kulineran di area Kuta.

Pagi jam 07.00WITA kami check-out dan sayangnya sarapan baru siap pukul 08.00WITA. Kamu langsung ke Pantai Matahari Terbit untuk check-in ke fast boat. Fast boat yang kami gunakan adalah Mola Mola Express denga tarif Rp100K/orang. Saya reservasi di Mola Mola melalui telepon dan mereka dengan senang hati merekomendasikan rental motor. Tenda Mola Mola bisa ditemukan di belakang Warung Mak Beng. Dari Mak Beng masih lurus sampe mentok kemudian belok ke kiri. Lurus terus sampai menemukan tenda dengan tulisan Mola Mola Express.

Karena tujuan pertama kami adalah ke Atuh Beach/Diamond Beach yang berada di timur Pulau Nusa Penida, kami memutuskan untuk mendarat di Pelabuhan Sampalan, karena letaknya yang lebih dekat. Kalau kamu ingin langsung ke Kelingking Beach, bisa pilih tujuannya ke Pelabuhan Toyapakeh, dengan harga yang kurang lebih sama.

Di Nusa Penida nyaris tidak ada sama sekali angkutan publik, paling hanya ojek pangkalan saja. Maka dari itu, seperti kunjungan kami sebelumnya, kami memilih untuk menyewa sepeda motor. Saya menghubungi kontak rental motor yang diberikan Mola Mola. Namanya Mbok Murti (+6287860849160), dia sangat responsif dan helpful. Saya menyewa Honda Vario dengan tarif Rp60K/hari untuk di-drop di Pelabuhan Sampalan. Jadi bisa langsung menuju hotel.

Saya sangat merekomendasikan Mbok Murti karena dia bisa membantu kamu untuk mendapatkan tiket pulang ke Sanur dengan harga lokal yaitu Rp75K (Rp100K merupakan harga turis lokal. Turis manca negara bisa dua kali lipat!) Pulangnya(dua hari kemudian), kami naik fast boat Idola yang berangkat juga dari Pelabuhan Sampalan pukul 13.00WITA. Rencana akan langsung menuju Ubud.

Oh ya, jangan lupa meminta Mbok Murti untuk mengisikan bensin penuh dan kita nambah Rp20K, biar nggak perlu repot-repot isi bensin lagi. Begitulah kira-kira rangkuman transportasi kami menuju dan pulang dari Nusa Penida. Semoga bermanfaat. Enjoy Bali!

Cerita saya dua hari mengeksplor Nusa Penida akan saya tuliskan di unggahan berikutnya. Untuk foto bisa cek akun Instagram saya di @pepsap.

Pengalaman Berburu Beasiswa Master

Rencana untuk melanjutkan studi master sudah terpikir sejak lama, bahkan sebelum saya lulus sarjana. Walaupun terkadang semangat naik turun, impian ini selalu mampu memotivasi saya untuk tetap konsisten ngelembur di coffee shop, bahkan saat akhir pekan.

Kegigihan saya membuahkan hasil. Saat ini saya sedang mempersiapkan studi master saya di Eropa dengan beasiswa penuh Erasmus+. Program yang saya ambil adalah Erasmus Mundus Master of Arts in European Studies (Euroculture). Program ini merupakan program joint degree yang multidisiplin dan mahasiswanya diwajibkan untuk berkuliah di beberapa universitas anggota konsorsium.

Untuk kasus saya, karena mendapatkan beasiswa penuh maka host university-nya sudah ditentukan oleh koordinator program. Semester 1 saya akan berkuliah di University of Groningen, Belanda dan semester 2 di The Jagiellonian University Krakow, Polandia. Saya bisa memilih antara research track atau professional track untuk di semester 3. Pilihan ini akan menentukan di universitas mana saya akan berkuliah di semester 3 dan 4 untuk menyelesaikan tesis. Bagi yang tertarik untuk mengetahui program joint master dengan beasiswa Erasmus+ bisa cek di sini.

Dalam perjalanannya selama 2-3 tahun terakhir, saya mendapatkan banyak sekali masukan dan pelajaran baik dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Karena sering mendapat pertanyaan terkait aplikasi master beserta beasiswa, berikut saya coba rangkum beberapa informasi yang barangkali bisa berguna untuk sobat pemburu beasiswa sekalian.

Persiapan Sertifikasi Keahlian Bahasa

Idealnya, sertifikat bahasa harus sudah dimiliki sebelum memulai pencarian beasiswa. Sertifkasi yang lazim digunakan untuk keperluan aplikasi admission dan beasiswa adalah IELTS dan TOEFL. Untuk IELTS setidaknya memiliki skor overall minimal 6.5 sedangkan TOELF, kamu bisa cek langsung di website program studi/beasiswa yang bersangkutan. Saat ini, tidak terlalu dipermasalahkan antara IELTS atau TOEFL, karena keduanya diakui oleh seluruh universitas di dunia. Saya memilih IELTS karena merasa lebih familiar dengan mekanisme dan indikator penilaiannya karena semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada dulu pernah beberapa kali mengikuti try out.

IELTS perlu dipersiapkan sejak dini lantaran banyak section yang perlu kamu perlajari. Tentunya kamu tidak ingin mengeluarkan biaya tes sekita Rp 3 jutaan berkali-kali bukan? Saya sendiri mengalokasikan sekitar 3/4 waktu belajar untuk writing task, karena memang belum terbiasa menulis kademik dalam Bahasa Inggris. Meskipun demikian, skor saya mentok di 6.0. Sedih sih, namun cukup terbantu dengan skor dari task lainnya sehingga overall score-nya bisa 7.0. Btw, saya menggunakan website ieltsadvantage.com untuk belajar mandiri di rumah.

Ketahui yang Kamu Mau

Kuliah di luar negeri dengan beasiswa bukan sekedar gaya-gayaan atau ikut-ikutan. Kamu harus riset terlebih dahulu sebenarnya keinginan kamu di masa depan ingin seperti apa. Jangan lupa juga untuk banyak membaca jenis-jenis program yang bisa memberikan keahlian serta pengetahuan tersebut.

Proses menulis motivation letter membuat saya lebih mengenal diri sendiri. Kok bisa? Karena saya rutin mengecek dan membandingkan website program studi dari berbagai universitas, saya jadi mengetahui berbagai macam cluster dan fokus studi yang serupa tapi tak sama. Bisa jadi program studinya sama, namun modul dan fokus studinya berbeda. Selain membantu untuk memahami apakah cocok atau tidak dengan jurusan tersebut, memasukkan detail mata kuliah yang akan kamu ambil bisa memberikan poin plus buat kamu. Plus, kita jadi tahu apa yang bisa kita ‘jual’ supaya bisa lolos. Saya sudah memiliki template sebelum melamar beasiswa, jadi kemudian hanya perlu menyesuaikan poin-poin untuk program studi dan beasiswa.

Selain melakukan riset di internet, kamu juga bisa menggunakan jaringan yang kamu miliki, misalnya teman-teman yang sudah berhasil atau sedang melakukan studi di negara tujuan kamu. Saya selalu menanyakan kepada mereka hal-hal yang bisa memberikan gambaran proses aplikasi beasiswa dari berbagai instansi yang berbeda. Pemberi beasiswa memiliki kualifikasi dan ekspektasi yang berbeda-beda jadi kita perlu lebih detail memahami aspek mana saja yang perlu di-highlight ketika membuat motivation letter. Saya sering meminta contoh motivation letter teman-teman awardee dari beberapa beasiswa. Tentunya hanya untuk konsumsi pribadi. Dari situ saya lihat bagaimana mereka membuat alur dan juga pembahasaan yang digunakan untuk menyampaikan poin-poin penting.

Kamu bisa cek artikel di website EHEF terkait informasi dan beberapa tips dalam mempersiapkan motivation letter. Sejauh ini, artikel ini cukup komprehensif apalagi bagi kamu yang masih bingng untuk memulai darimana.

Buat Prioritas

Setelah melakukan riset jurusan, universitas dan beasiswa mana saja yang ingin diambil, baiknya membuat kalendar. Jadi bisa terlihat mana aplikasi yang perlu didahulukan sehingga memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan dokumen-dokumen lainnya seperti surat rekomendasi akademik atau profesional, legalisisasi ijasah dan transkrip, dll.

Saya sendiri selama dua tahun terakhir telah melamar lebih dari sepuluh beasiswa. Sehingga tidak terpaku dan berharap hanya pada satu beasiswa saja. Prinsipnya, semakin banyak aplikasi yang diunggah, maka semakin besar kesempatan untuk lolos. Meskipun beberapa harus membayar biaya aplikasi, namun hal tersebut merupakan investasi.

Scholarships Calendar 2019, kalender beasiswa yang sangat lengkap sekali dibuat oleh Universitas Gadjah Mada. Kamu bisa merangkum dari sini, dan membuat kalender yang sesuai dengan kualifikasi dan minat kamu.

Hal-hal tersebut yang terlintas di kepala saya untuk saat ini. Saya akan share beberapa hal dan tips lainnya mungkin di unggahan saya berikutnya. Good luck buat teman-teman yang sedang mempersiapkan aplikasi beasiswa tahun ini. Jangan mudah menyerah!

Tarik Tunai Kartu Kredit di Luar Negeri

Sebelumnya saya sempat menyimak beberapa penjelasan terkait bahayanya ambil uang tunai dari kartu kredit, baik itu di dalam negeri maupun luar negeri. Banyak yang bilang bunganya terlalu tinggi dan bakal kena tambahan charge untuk kurs mata uang. Saya pun ikut bertanya-tanya, berapa sih biaya tambahan kalau kita ambil cash dari kartu kredit di luar negeri?

Kebetulan kemarin pas saya sedang di Chiang Mai saya iseng-iseng nyobain tarik tunai di mesin ATM Bank ICBC dan Bangkok Bank. Saya masukin kartu kredit mastercard saya. Pilih pilihan tarik tunai dan kemudian muncul keterangan yang menyatakan bahwa kartu saya akan dikenakan charge dari Bangkok Bank sebesar THB 345 atau sekitar IDR 150.000. Tapi karena memang lagi butuh cash buat bayar makan, saya lanjutkan transaksi dan klik tombol konfirmasi.

Setelah konfirmasi ternyata transaksi gagal dan saya diminta untuk menghubungi bank penerbit kartu kredit saya. Hmm.. yasudahlah. Untung masih ada beberapa cash di dompet untuk bertahan hingga besok.

Masih penasaran, kemudian on the way saya balik ke Indonesia, saya transit di Singapura selama kurang lebih sembilan jam. Nah, di sini saya coba lagi tarik tunai di mesin ATM DBS di foodcourt Bandara Changi. Kartu kredit dari bank yang sama tapi kali ini dengan logo JCB. Pilih pilihan untuk tarik tunai, dan langsung klik SGD 100. Processing dan kemudian langsung confirmed. Nggak ada embel-embel charge dari bank atau sebagainya.

Setelahnya, saya cukup kepikiran juga sih kira-kira kena charge berapa ya? Tapi yasudahlah, saya pikir kalau memang nanti kena charge sangat tinggi, anggap aja sebagai pengalaman. Pengalaman kan mahal, ya nggak? Beberapa minggu kemudian di tagihan bulanan kartu kredit saya, tagihan yang muncul adalah konversi SGD 100 ke dalam rupiah sebesar IDR 1.037.976 plus Cash Advance Percent Fee sebesar IDR 41.519. Jadi saya cuma kena tambahan charge sebesar 4 persen.

Tagihan Kartu Kredit

Not too bad sih, walaupun sebaiknya dihindari. Cuma kalau sedang dalam keadaan kepepet kan bisa menjadi solusi. Semoga sharing saya kali ini bisa berguna buat yang selama ini bertanya-tanya perihal tersebut.

Tips dari saya, buat jaga-jaga, sebelum kamu pergi ke luar negeri sebaiknya kontak bank penerbit kartu kredit kamu supaya kartunya bisa digunakan di luar negeri, mau itu akhirnya akan digunakan atau nggak. Biar lebih aman kalau terjadi keapesan di perjalanan. Semisal dicopet, dompet ilang dan sebagainya.

Thailand: Perjalanan 5 Hari di 4 Kota

Seperti kebanyakan orang, ketika merencanakan perjalanan liburan, saya selalu usahakan nggak hanya mengunjungi satu kota saja. Liburan kali ini saya menghabiskan waktu (dan uang 😢) selama lima hari di Pattaya, Bangkok, Chiang Rai dan Chiang Rai (plus juga delapan jam transit di Singapura). Cukup intense sih, karena rata-rata saya hanya punya waktu sekitar satu setengah hari di setiap kota yang saya kunjungi.

Sempet nyaris ketinggalan pesawat pula di Don Mueang pas menuju Chiang Rai, karena seperti di Jakarta, lalu lintas di Bangkok saat peak hour juga sangat macet. Meskipun begitu, yang bikin saya iri adalah kualitas udara di sana merupakan salah satu yang terbaik di Asia, bahkan dunia.

Overall, perjalanan kemarin cukup fun dan menegangkan. Meskipun minim waktu, namun bisa maksimal mengeksplor beberapa spot di sana. Cek itinerary saya berikut ini.

Rute perjalanan:

Day 1: Early flight CGK – Don Mueang – Bus Terminal – Check-in at A-One Star Hotel, Pattaya – Lunch at Subway Sandwich – Ripley’s Museum – Beach Walk + Walking Street – Foto-foto di depan Cabaret Show – Thai Street Food for Dinner- Tidur

Ripley’s Believe It Or Not Museum, Pattaya

Day 2: Breakfast at Hotel – Sanctuary of Truth (keren banget!) – Nong Nooch Tropical Garden (juga amazing!) – Terminal Bus – Check-in at Lub-D Bangkok Siam Hotel – Dinner at Marina HK Siam (The Best Roasted Duck with Noodle) + Tidur

Sanctuary of Truth, Pattaya

Day 3: Breakfast at Hotel – Wat Arun – Wat Pho – Lunch at Subway Sandwich (again) – Phra Samakorn Temple – Explore Siam Paragon + Central World – Check-out – Rushing to Don Mueang Airport – Check-in at Mercy Hostel, Chiang Rai – Tidur (No Dinner – Kecapean)

Wat Pho, Bangkok

Day 4: Breakfast at Hotel – White Temple – Lunch di Warund Depan Temple – Blue Temple – Golden Triangle – Boat Trip to Myanmar and Laos Border – Check-out – Bus Terminal – Check-in at Sri Chiang Yeun House – Thai Street Food for Dinner – Tidur

White Temple, Chiang Rai

Day 5: Central Festival – Brunch at Tummour Thai Restaurant – Check-out – Airport (Earlier, biar nggak buru-buru kayak di Bangkok) – Check-in at Lub-D Bangkok Siam Hotel (again) – Dinner at Marina HK Siam (Again. Soalnya enak banget!) – Explore Night Market + Red District – Early Check-out

Donxao Island, Laos

Day 6: Changi Airport – Brunch at Airport Foodcourt – Locker Room – Singapore Artscience Museum (Marvel Studios + Future World) – Gardens by The Bay (Flower Field + Cloud Forest) – Rushing to Airport – CGK

Marvel Studios, Singapura
Design a site like this with WordPress.com
Get started