Pengalaman Berburu Beasiswa Master

Rencana untuk melanjutkan studi master sudah terpikir sejak lama, bahkan sebelum saya lulus sarjana. Walaupun terkadang semangat naik turun, impian ini selalu mampu memotivasi saya untuk tetap konsisten ngelembur di coffee shop, bahkan saat akhir pekan.

Kegigihan saya membuahkan hasil. Saat ini saya sedang mempersiapkan studi master saya di Eropa dengan beasiswa penuh Erasmus+. Program yang saya ambil adalah Erasmus Mundus Master of Arts in European Studies (Euroculture). Program ini merupakan program joint degree yang multidisiplin dan mahasiswanya diwajibkan untuk berkuliah di beberapa universitas anggota konsorsium.

Untuk kasus saya, karena mendapatkan beasiswa penuh maka host university-nya sudah ditentukan oleh koordinator program. Semester 1 saya akan berkuliah di University of Groningen, Belanda dan semester 2 di The Jagiellonian University Krakow, Polandia. Saya bisa memilih antara research track atau professional track untuk di semester 3. Pilihan ini akan menentukan di universitas mana saya akan berkuliah di semester 3 dan 4 untuk menyelesaikan tesis. Bagi yang tertarik untuk mengetahui program joint master dengan beasiswa Erasmus+ bisa cek di sini.

Dalam perjalanannya selama 2-3 tahun terakhir, saya mendapatkan banyak sekali masukan dan pelajaran baik dari pengalaman sendiri maupun orang lain. Karena sering mendapat pertanyaan terkait aplikasi master beserta beasiswa, berikut saya coba rangkum beberapa informasi yang barangkali bisa berguna untuk sobat pemburu beasiswa sekalian.

Persiapan Sertifikasi Keahlian Bahasa

Idealnya, sertifikat bahasa harus sudah dimiliki sebelum memulai pencarian beasiswa. Sertifkasi yang lazim digunakan untuk keperluan aplikasi admission dan beasiswa adalah IELTS dan TOEFL. Untuk IELTS setidaknya memiliki skor overall minimal 6.5 sedangkan TOELF, kamu bisa cek langsung di website program studi/beasiswa yang bersangkutan. Saat ini, tidak terlalu dipermasalahkan antara IELTS atau TOEFL, karena keduanya diakui oleh seluruh universitas di dunia. Saya memilih IELTS karena merasa lebih familiar dengan mekanisme dan indikator penilaiannya karena semasa kuliah di Universitas Gadjah Mada dulu pernah beberapa kali mengikuti try out.

IELTS perlu dipersiapkan sejak dini lantaran banyak section yang perlu kamu perlajari. Tentunya kamu tidak ingin mengeluarkan biaya tes sekita Rp 3 jutaan berkali-kali bukan? Saya sendiri mengalokasikan sekitar 3/4 waktu belajar untuk writing task, karena memang belum terbiasa menulis kademik dalam Bahasa Inggris. Meskipun demikian, skor saya mentok di 6.0. Sedih sih, namun cukup terbantu dengan skor dari task lainnya sehingga overall score-nya bisa 7.0. Btw, saya menggunakan website ieltsadvantage.com untuk belajar mandiri di rumah.

Ketahui yang Kamu Mau

Kuliah di luar negeri dengan beasiswa bukan sekedar gaya-gayaan atau ikut-ikutan. Kamu harus riset terlebih dahulu sebenarnya keinginan kamu di masa depan ingin seperti apa. Jangan lupa juga untuk banyak membaca jenis-jenis program yang bisa memberikan keahlian serta pengetahuan tersebut.

Proses menulis motivation letter membuat saya lebih mengenal diri sendiri. Kok bisa? Karena saya rutin mengecek dan membandingkan website program studi dari berbagai universitas, saya jadi mengetahui berbagai macam cluster dan fokus studi yang serupa tapi tak sama. Bisa jadi program studinya sama, namun modul dan fokus studinya berbeda. Selain membantu untuk memahami apakah cocok atau tidak dengan jurusan tersebut, memasukkan detail mata kuliah yang akan kamu ambil bisa memberikan poin plus buat kamu. Plus, kita jadi tahu apa yang bisa kita ‘jual’ supaya bisa lolos. Saya sudah memiliki template sebelum melamar beasiswa, jadi kemudian hanya perlu menyesuaikan poin-poin untuk program studi dan beasiswa.

Selain melakukan riset di internet, kamu juga bisa menggunakan jaringan yang kamu miliki, misalnya teman-teman yang sudah berhasil atau sedang melakukan studi di negara tujuan kamu. Saya selalu menanyakan kepada mereka hal-hal yang bisa memberikan gambaran proses aplikasi beasiswa dari berbagai instansi yang berbeda. Pemberi beasiswa memiliki kualifikasi dan ekspektasi yang berbeda-beda jadi kita perlu lebih detail memahami aspek mana saja yang perlu di-highlight ketika membuat motivation letter. Saya sering meminta contoh motivation letter teman-teman awardee dari beberapa beasiswa. Tentunya hanya untuk konsumsi pribadi. Dari situ saya lihat bagaimana mereka membuat alur dan juga pembahasaan yang digunakan untuk menyampaikan poin-poin penting.

Kamu bisa cek artikel di website EHEF terkait informasi dan beberapa tips dalam mempersiapkan motivation letter. Sejauh ini, artikel ini cukup komprehensif apalagi bagi kamu yang masih bingng untuk memulai darimana.

Buat Prioritas

Setelah melakukan riset jurusan, universitas dan beasiswa mana saja yang ingin diambil, baiknya membuat kalendar. Jadi bisa terlihat mana aplikasi yang perlu didahulukan sehingga memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan dokumen-dokumen lainnya seperti surat rekomendasi akademik atau profesional, legalisisasi ijasah dan transkrip, dll.

Saya sendiri selama dua tahun terakhir telah melamar lebih dari sepuluh beasiswa. Sehingga tidak terpaku dan berharap hanya pada satu beasiswa saja. Prinsipnya, semakin banyak aplikasi yang diunggah, maka semakin besar kesempatan untuk lolos. Meskipun beberapa harus membayar biaya aplikasi, namun hal tersebut merupakan investasi.

Scholarships Calendar 2019, kalender beasiswa yang sangat lengkap sekali dibuat oleh Universitas Gadjah Mada. Kamu bisa merangkum dari sini, dan membuat kalender yang sesuai dengan kualifikasi dan minat kamu.

Hal-hal tersebut yang terlintas di kepala saya untuk saat ini. Saya akan share beberapa hal dan tips lainnya mungkin di unggahan saya berikutnya. Good luck buat teman-teman yang sedang mempersiapkan aplikasi beasiswa tahun ini. Jangan mudah menyerah!

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started